Alasan Gajah Tidak Boleh Ditunggangi

Jakarta – Gajah menjadi salah satu hewan populer di tempat wisata, seperti kebun binatang dan taman safari. Selain melihat dari dekat, PTTOGEL beberapa destinasi wisata bahkan menawarkan pengalaman menunggangi gajah.

Meski terlihat seru dan mengesankan, aktivitas ini ternyata menyimpan dampak negatif yang besar bagi kesehatan gajah. Berikut beberapa alasan mengapa gajah tidak boleh ditunggangi.

Meski bertubuh besar, anatomi gajah tidak memungkinkan tubuh mereka untuk mengangkut bobot besar. Dikutip dari Green Elephant Sanctuary Park pada Sabtu (29/03/2025), beberapa bagian tubuh gajah justru menunjukkan kalau mereka sebenarnya tidak didesain untuk mengangkut beban berlebih.

Masalah utama terkait dengan struktur tulang belakang dari gajah. Tulang belakang milik gajah mengarah ke atas, layaknya manusia. Kemudian, di tulang tersebut tidak ada cakram bulat yang halus, melainkan tulang tajam yang memanjang dari belakang ke atas.

Ditambah lagi, saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan soal seberapa berat bobot yang dapat ditanggung gajah di punggung mereka. Berbeda dengan kuda yang biasa ditunggangi di sekitar area punggung, umumnya orang yang naik gajah akan duduk di sekitar leher atau sekitar tulang vertebrata serviks.

Tentunya, tulang area leher sebenarnya tidak dianjurkan untuk menerima beban berlebih, sekalipun itu adalah makhluk sebesar gajah. Dampak menunggangi gajah tidak main-main.

Gajah yang sudah ditunggangi sejak lama menunjukkan tanda-tanda cacat pada tulang belakang mereka yang membuat si gajah jadi terlihat bungkuk. Selain itu, penggunaan howdah, pelana khusus gajah, tak jarang melukai kulit gajah hingga menjadi luka terbuka.

Bagian yang terluka dapat menimbulkan infeksi serius bagi si gajah. Kalau sudah demikian, tak ada pengobatan yang dapat mengembalikan gajah ke kondisi semula mereka.

Selain masalah fisik, gajah yang dimanfaatkan untuk atraksi komersial tak jarang mengalami trauma berkepanjangan. Proses pelatihan gajah sering kali melibatkan metode yang kejam.

Dalam praktiknya, banyak pawang yang menggunakan cambuk, paku, atau alat tajam lainnya untuk “melatih” gajah agar patuh. Gajah yang kerap menerima perlakuan kasar bisa mengalami gangguan mental yang membuat mereka cenderung agresif atau apatis.

Menurut World Animal Protection, gajah yang digunakan untuk atraksi wisata sering kali dipisahkan dari induknya sejak kecil. Mereka dibesarkan dalam kondisi penuh tekanan dan tidak jarang mengalami isolasi sosial.

Hal ini berlawanan dengan sifat alami gajah yang merupakan hewan sosial dan hidup dalam kelompok besar. Lebih lanjut, aktivitas menunggangi gajah juga menambah beban kerja berlebihan bagi mereka.

Dalam satu hari, gajah bisa dipaksa membawa puluhan hingga ratusan wisatawan tanpa waktu istirahat yang cukup. Hal ini berisiko menyebabkan cedera pada kaki, punggung, dan sendi gajah.

Sumber : Slotxogamesforfree.com